“Manusia literer mampu berpikir abstrak, melihat substansi peristiwa. Cakap dalam melihat hubungan-hubungan peristiwa dalam struktur yang tetap. Orang begini tidak mudah dihasut, karena tidak melihat berdasarkan inderawinya tetapi akal budinya. Mereka mampu mengambil jarak dengan segala sesuatu di luar dirinya. Segala sesuatu dilihat obyektif apa adanya, dan bukan bagaimana nampaknya. Orang-orang ini kritis, berbuat setelah matang pemikirannya karena ia melihat perspektif kemungkinan-kemungkinannyaJakob Sumardjo (sumardjo.com/hangat-hangat-tahi-ayam/)

Banyak yang menarik perhatian kami ketika berkunjung ke Selandia Baru (New Zealand), negeri di belahan bumi selatan itu, pada awal bulan Januari tahun lalu. Pemandangan alam yang sangat indah, keramahan penduduk lokal, banyaknya sapi dan domba yang terlihat sehat dan gemuk berikut tempat merumputnya yang segar dan sangat terawat menjadi catatan tersendiri dalam benak kami. Namun yang paling menarik perhatian adalah dimana-mana, dan setiap ada kesempatan, orang disana menggenggam buku dan membacanya.

Hampir tiga minggu kami disana, selain Christchurch kami juga mengunjungi Auckland, dan kota wisata  Queenstown. Selama dalam perjalanan, mulai di ruang tunggu bandara, dalam pesawat, di perhentian bus, di taman-taman kebanyakan orang mengeluarkan buku dari dalam tasnya, dan membaca. Orang tua, anak muda, laki-laki dan perempuan hingga anak-anak, semua membaca. Tak pelak lagi, saya berada di tengah-tengah warga yang gemar membaca, masyarakat literer.

Pikiran saya ketika itu langsung melayang jauh saat bergaul dengan ayah semasa kecil. Beliau seorang yang Sekolah Rakyat saja tidak lulus, namun kegemaran membacanya luar biasa. Sampai hari ini pesan beliau lekat dalam ingatan. Ingatlah nak katanya, ilmu itu ada di dalam buku, oleh karena itu membaca adalah jendela dunia. Nampaknya kata bijak yang disampaikan ayah itu selaras dengan pepatah tradisional penduduk asli  Selandia Baru, Maori. “Ko te manu kai i te miro nona te ngahere, ko te manu kai i te matauranga nona te ao.” Burung yang makan dari pohon Miro memiliki hutan, burung yang makan dari pohon pengetahuan memiliki dunia.

Christchurch, kota kedua terbesar di Selandia Baru dan berpenduduk sekitar 350 ribu jiwa, memiliki luas wilayah 452 km2. Puluhan taman publik tersebar di berbagai tempat, sehingga tidak aneh kalau Christchurch berjuluk The Garden City. Di taman-taman itu banyak warga kota yang duduk-duduk bersantai di rumput sambil membaca buku.

Santai Membaca Di Taman, Queenstown, NZ

Ketika kami berada di Hagley Park, sebuah taman publik yang besar di tengah kota Christchurch, iseng saya hampiri seorang laki-laki yang asyik duduk di rerumputan taman sambil membaca buku, tampaknya sebuah literatur. Tom panggilannya, seorang petugas satpam di sebuah pabrik di pinggiran kota. Wah udara cukup gerah ya, katanya membuka pembicaraan.  Saat itu memang summer, tapi bagi kami cuaca di siang hari 14 derajat Celcius dan angin bertiup kencang harus memakai sweater.

Dari bincang-bincang santai dengan Tom siang itu saya banyak tahu kebiasaan membaca penduduk Christchurch. Di sana pada umumnya anak-anak usia dini sudah dibiasakan mengenal buku, bukan mengenal hurup. Orang tua tidak memaksakan kehendaknya agar si anak bisa membaca, apalagi menulis. Bangsa kami sadar bahwa orangtua tidak boleh terjebak dengan paradigma inteligensi akademik semata, katanya. Apa yang dikatakan Tom selanjutnya sama persis dengan pendapat Andy Sutioso, pengelola Rumah Belajar Semi Palar di Bandung, bahwa pendidikan dasar adalah saat dimana kita harus mengenalkan dunia yang harus dieksplorasinya, dimana anak-anak harus dibangun minatnya untuk bertanya, untuk berpikir kritis, untuk menggali dan mencari tahu tentang lingkungannya.

                                                                                       Si Kecil Berimajinasi

Ketika berada di Auckland dan akan kembali ke Christchurch, saya melihat sekelompok anak seusia 3 hingga 4 tahun berbaris rapi di dalam terminal keberangkatan Auckland Airport.  Sebelumnya, beberapa kali saya melihat hal yang sama di Changi Airport  Singapura. Tampaknya setelah berkeliling meninjau mulai dari konter pendaftaran, ban berjalan (belt conveyor), garbarata, hingga melihat pesawat dan berkenalan dengan pilot, pramugari sampai petugas keamanan, mereka didudukkan di lantai berkarpet yang bersih, mendapat penjelasan dari para gurunya. Rupanya saat itu sang guru sedang menerapkan apa yang dikatakan Albert Einstein: “Imajinasi adalah lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan adalah terbatas. Imajinasi mengelilingi dunia”.

Desa-desa di pinggiran kota (suburb) di Selandia Baru memiliki perpustakaan sendiri. Denyut kehidupan di desa-desa dapat dirasakan di perpustakaan. Perpustakaan di masing-masing suburb tidak hanya berurusan dengan buku seperti halnya perpustakaan kita disini, tapi dengan banyak hal. CD dan DVD tentang sejarah, alam, musik, rekreasi, olahraga dapat dipinjam bahkan dapat didengar (tentunya dengan headset) dan dilihat langsung disana. Jasa tentang informasi lowongan pekerjaan, peluang bisnis dan investasi di masing-masing desa juga tersedia. Bahkan pada perpustakaan tertentu dilengkapi dengan mainan anak-anak (toys library) yang dapat dipinjam orangtua, sekaligus dengan pelayanan oleh librarian tentang hal apa (motorik atau kognitif) yang akan dikembangkan terhadap anak-anak.

Lincoln, salah satu desa pinggiran di distrik Selwyn, Canterbury yang berpenduduk 3 ribu jiwa dan ditempuh 20 menit dari Christchurch, memiliki perpustakaan yang setiap anggotanya dapat mengakses secara online 1.500 surat kabar dari seluruh dunia. Rumah anak saya, ketika itu, kebetulan berseberangan dengan perpustakaan itu, sehingga sehari-hari kami melihat ramainya perpustakaan dikunjungi warga. Orang tua, anak muda hingga anak-anak silih berganti mengunjunginya

Lincoln Service Centre And Library

Suburb New Brighton, 30 menit dari Christchurch, memiliki perpustakaan yang istimewa karena letak dan bangunannya di pantai menghadap Samudera Pasifik Selatan dengan pemandangan yang menakjubkan. Perpustakaan disana buka tujuh hari seminggu. Pada hari sabtu dan minggu sangat ramai dikunjungi warga. Di dalam perpustakaan ini disediakan ruang bermain anak-anak, parenting room, ruang pameran seni, ruang pertemuan, layanan internet gratis, hingga cafe.  Perpustakaan disana tidak tidak lagi hanya tempat meminjam buku, tapi sudah menjadi tempat rekreasi keluarga. Andaikan ketika itu ada waktu, sudah pasti  di sana saya akan meminjam CD dan mendengarkan musik dari kelompok Chicago, duduk di sofa empuk ditemani cappucinno sambil melihat ombak bergulung-gulung. Entah sekarang apakah perpustakaan itu masih dibuka setelah gempa yang cukup dahsyat menggoyang Christchurch.

Maka, tidak heran bila berdasarkan laporan UNDP, Index Pembangunan Manusia tahun 2009 yang salah satu ukurannya melek huruf, Selandia Baru menduduki peringkat 20 dari 182 negara, sedangkan Indonesia berada di peringkat  111 jauh di belakang Malaysia yang berada di peringkat 66 dan Thailand 87. Mengapa budaya literer di negara kita tidak berkembang ? Apakah karena budaya lisan lebih disukai, hal mana ditandai dengan maraknya orang bertelpon ria di mana-mana ? Apakah karena masyarakat kita lebih suka menonton acara tv, lebih suka mendengar dan melihat ? Silakan anda menjawabnya.