Aside

AYAH BERCITA-CITA ANAK YANG MEWUJUDKAN

Esai ini pernah dimuat dalam buku “Tersenyumlah Nak – Sebuah Kisah Cinta” yang diterbitkan Harian Banjarmasin Post dalam rangka memperingati HUT ke-3 Yayasan Suaka Ananda Bpos, 20 Juni 2009 (http://suaka-ananda-bpos.or.id/Berita/berguru-kepada-anak-anak-lucu-itu.html)

Di masa saya masih kecil, berumur sekitar sepuluh tahun, keluarga kami bertetangga dengan keluarga lain yang tiga orang anak laki-lakinya, berikut seorang pamannya yang hampir sebaya dengan keponakannya itu berangkat ke Dusseldorf, Jerman Barat. Jerman saat itu masih terbelah dua, Jerman Timur dan Jerman Barat.

Mereka berangkat bergelombang, mula-mula pamannya dan saudara tertua, kemudian disusul oleh adik-adiknya. Ketika itu hampir semua tetangga dekat keluar rumah melepas kepergian mereka, tidak ketinggalan saya. Kabarnya mereka ke sana bersekolah.

Terbayang dalam benak, senangnya mereka studi di sana, di tengah udara yang dingin, sarapan pagi dengan roti isi daging, keju dan telor, berangkat ke sekolah dengan mantel, bergelantungan di trem listrik di tengah kota. Keadaan yang serba teratur rapi, masyarakat yang sangat menghargai hak orang lain terus membayangi pikiran. Sudah barang tentu mereka mahir berbahasa Jerman atau setidaknya bahasa Inggris. Terbayang pula beberapa tahun kemudian mereka akan pulang dengan gelar Insinyur, bekerja sebagai kepala mekanik, atau mungkin di perusahaan galangan kapal di Jawa. Namun di kemudian hari terbukti di sana mereka tidak pernah berkuliah, tapi bekerja sebagai sopir taksi.

Peristiwa itu membekas dalam pikiran saya. Sejak itu niat untuk bersekolah ke luar negeri menjadi obsesi saya, lebih-lebih setelah banyak mendapat pengetahuan tentang dunia barat dari buku-buku milik ayah. Walau ayah tidak tamat sekolah dasar, karena di saat kecil keluarganya terhimpit oleh keadaan ekonomi, namun ia adalah seorang yang sangat menghargai pengetahuan. Ayah sangat suka membaca. Rasanya tidak ada hari-harinya yang terlewatkan tanpa membaca. Surat kabar harian langganannya banyak, koran lokal, Sinar Harapan, Berita Yudha, Suara Merdeka, dan setelah tahun 65an juga Kompas. Buku-buku tentang sejarah, terutama sejarah Islam, nonfiksi, biografi dan memoar sangat digemarinya.  Ratusan buku itu juga menjadi sumber pengetahuan saya di masa kecil.

Ketika sekolah dasar dilewati, saya memberanikan diri minta izin orangtua untuk diperkenankan sekolah ke pulau Jawa. Kota tujuan adalah Surabaya. Bayangan saya sebelum sekolah ke luar negeri ada baiknya belajar di kota lain dalam negeri yang jauh dari keluarga agar terbiasa pisah dengan orang-orang yang dicintai. Banyak masukan bahwa pendidikan di pulau Jawa jauh lebih maju dibanding di daerah. Lebih-lebih bila membayangkan di sana ada bemo, kendaraan angkutan kota roda tiga, yang dapat menggantikan sepeda yang saya pakai sehari-hari.

Ibu sangat terkejut, namun ayah saya tergelak sambil bertanya kalau sudah dewasa  maunya jadi apa ?  Saya jawab mau jadi seperti Zatoichi, yang dalam serial film terkenal di masa saya kecil diperankan oleh Shintaro Katsu, itu jagoan ahli pedang yang buta dari Jepang yang berkelana tiada henti sambil membela kebenaran.  Atau seperti Umar bin Chatab, pahlawan Islam yang tegas, pemberani, namun sangat bersahaja. Ketika itu tampaknya saya belum dapat membedakan pertanyaan tentang “apa” yang saya jawab dengan “siapa”.

Jelas, orangtua ketika itu tidak mengijinkan karena alasan-alasan yang logis antara lain karena tidak ada orang atau keluarga yang mengawasi keseharian saya di sana. Lebih-lebih ibu yang tidak pernah melepas anaknya jauh, apalagi ketika itu saya masih berusia sekitar dua belas tahun. Ibu memiliki sembilan anak, saya tepat berada di tengah.

                                                 Papa & Mama

Penolakan orangtua tidak menyurutkan obsesi saya untuk menuntut ilmu di luar negeri, lebih-lebih ketika saya tahu ada teman kakak yang dikirim Departemen P dan K ke Jepang beberapa bulan dalam rangka pertukaran pelajar.

Lulus sekolah lanjutan pertama, sekitar tahun 1970 atau 1971, sekali lagi saya utara-kan keinginan untuk sekolah di Surabaya, namun sekali lagi pula ditolak orangtua. Sementara itu saya sudah mulai mempersiapkan diri dengan mengikuti kursus Bahasa Inggris.

Setahun setelah itu, ketika pengumuman kenaikan kelas, gejolak untuk bersekolah di Surabaya tidak tertahankan. Sekali lagi mencoba mengajukan kenginan itu kepada orangtua. Kali ini, ibu yang biasa kukuh menentang malah merestuinya.  Ibu mengatakan melihat kesungguhan dan tekad anak yang satu ini yang tampaknya tak pernah pudar, dan setelah membaca  esai Kahlil Gibran, membuatnya luluh.

Ketika ibu ditanya apa kata Kahlil Gibran, ia mengatakan, secara tak sengaja menemukan di bawah bantal ayah buku karangan penyair  kelahiran Lebanon yang besar di Amerika itu, dan terbaca beberapa baris kalimat demikian: “ Anak-anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka lahir melalui engkau, tapi bukan darimu. Meskipun mereka bersamamu, mereka bukanlah milikmu. Pada mereka engkau boleh memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu, karena mereka memiliki pikiran sendiri. Engkau dapat memberikan tempat untuk raga, tapi bukan jiwa mereka. Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok yang tak pernah dapat engkau kunjungi, meskipun dalam mimpi. Engkau dapat berupaya keras untuk menjadi seperti mereka, tetapi jangan mencoba membuat mereka sepertimu.
Karena kehidupan tidak berjalan ke belakang juga tak tinggal di masa lalu. Engkau adalah busur kehidupan  – tempat dimana anakmu menjadi anak-anak  panah yang diluncurkan”
.

Titik air mata saya mendengar penuturan ibu. Saya tidak menyangka, ibu yang hanya seorang ibu rumah tangga dan pernah melahirkan sembilan anak ke dunia ini, namun pernah bekerja sebagai operator di Kantor Telepon, begitu jauh pandangannya ke depan. Kini tidak ragu saya menempatkan ibu sebagai orang yang terbesar dan sangat berpengaruh dalam sejarah hidup saya.

Ayah mengantar saya hingga ke Surabaya, mencarikan sekolah, dan menitipkan kepada keponakan ibu yang sudah hampir lulus sekolah kedokteran untuk mengawasi keberadaan  saya di sana.

Ayah memilih SMA Negeri 3 Surabaya untuk sekolah saya, yang satu komplek dengan Kantor Wilayah P dan K Jawa Timur. Mungkin dipikirnya sekolah itu pasti bagus karena lingkungannya baik, guru-gurunya rajin, dan pelajarnya tidak berani macam-macam, karena satu halaman dengan instansi yang berwenang mengurusi sekolah-sekolah.

Sementara belum mendapat rumah kost, ayah menitipkan saya di asrama mahasiswa Kalimantan Selatan di Jalan Pucang Adi, cukup jauh dari sekolah karena harus dua kali ganti bemo, angkutan kota tiga roda. Di hari-hari awal saya bersekolah di kota Surabaya dilalui dengan perasaan senang dan sedih yang bercampur baur menjadi satu. Senang karena arah untuk meraih obsesi tampaknya sudah tepat, sedih karena harus meninggalkan semua yang sudah mapan, jauh dari orangtua dan saudara.

Ternyata tinggal di asrama sungguh membuat saya benar-benar mandiri. Berangkat dan pulang sekolah harus jalan kaki lebih dahulu sebelum naik angkutan kota.  Harus mencuci sendiri pakaian sehari-hari, harus menerima makan seadanya. Di rumah yang biasanya lauk pauk tidak terbatas, di asrama mahasiswa itu tidak jarang saya disuguhi makanan seperempat telor dadar plus sayur disiram kuah pecel encer sekadarnya.

Walau kurang dari satu tahun tinggal di asrama itu, namun sungguh banyak kesan dan pengalaman baik yang saya dapatkan. Di asrama, yang semua penghuninya mahasiswa, saya memiliki banyak teman yang bersahaja namun gigih menuntut ilmu. Rasa senasib dan sepenanggungan serta hidup prihatin membuat rasa persaudaraan kami menjadi lebih erat. Cinta dan pengorbanan orangtua kepada anaknya menjadi lebih terasa. Bagi saya, asrama itu bagai kawah Candradimuka.

Tahun 1974 saya lulus Sekolah Menengah Atas. Sementara itu keinginan untuk bersekolah ke luar negeri tidak pernah padam. Ketika pulang dan menghadap orangtua, saya kemukakan lagi keinginan untuk menuntut ilmu di negeri orang. Namun lagi-lagi orang-tua menolak. Akan tetapi kali ini saya menerima alasan orangtua dengan legawa.

Ayah mengatakan ia sudah meninggalkan pekerjaan yang digelutinya selama ini, yaitu sebagai kontraktor atau dahulu dikenal sebagai anemer (Belanda: aannemer). Walau merasa masih mampu berkarya namun beliau merasa zaman sudah berubah. Era beliau sebagai anemer yang mengutamakan kualitas, kelas dan mutu tampaknya sudah berlalu. Singkatnya ayah mengemukakan ketidakmampuan keuangan manakala saya studi di luar negeri.

Saya sangat memahami kondisi keuangan ayah, dan lebih memahami lagi kemampuan saya sendiri, terutama kemampuan bahasa Inggris yang seharusnya menjadi modal utama untuk berkomunikasi di sana manakala akan menuntut ilmu di Negara mana pun. Sepanjang ingatan, sejak Sekolah Menengah Pertama hingga mahasiswa Strata Dua, sudah lebih sepuluh kali saya masuk keluar lembaga kursus bahasa, namun tidak jua berhasil menyelesaikan dengan mendapatkan sertipikat, selalu saja gagal. Tentunya tidak pernah bisa menguasai secara aktif bahasa Inggris.

Namun demikian ketika itu beliau mengemukakan tetap mendorong agar saya kuliah pada salah satu perguruan tinggi di kota mana pun, asal di Negara sendiri. Saat itu ayah tidak lagi bertanya seperti dulu: “Kalau besar mau jadi apa”, tapi hanya mengemukakan beberapa profesi dan pekerjaan yang kemungkinan akan dijalani. Selanjutnya beliau berandai-andai untuk pekerjaan saya mendatang. Andai jadi Akuntan, kata ayah, saya tidak cocok karena lemah dalam hitung-hitungan. Andai jadi pegawai negeri, kata beliau, tidak cocok karena gajinya sedikit dan saya yang selalu diberi pesan oleh ayah “berakit ke hulu berenang ke tepian” akan berpotensi menyalah-gunakan kewenangan.

Ayah juga berpesan agar hindari profesi Avokat/Pengacara karena akan menghadapi banyak musuh. Jangan pula sebagai Hakim, karena profesi itu pekerjaannya paling berat di dunia, sebab ia dalam menyelesaikan pekerjaannya selalu didahului oleh kalimat “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Beliau masih berandai-andai, menjadi Polisi atau Jaksa juga tidak cocok bagi saya; dikatakannya saya tidak tegar dalam menegakkan hukum. Lalu profesi apa yang pantas bagi saya ?

Ayah yang tidak pernah menempuh pendidikan formal yang tinggi, namun sarat dengan pengalaman hidup, mengatakan selama ia menjalankan usaha, sudah sangat sering berhubungan dengan orang-orang berbagai profesi. Ia merasakan profesi yang paling ideal dan pas bagi saya, diramalnya saya adalah anak pertama – diantara dua belas orang anaknya – yang akan bergelar sarjana,  adalah Notaris.

Notaris ? Ya, Notaris, katanya. Di mata ayah, Notaris diperlukan orang dalam damai, artinya pihak-pihak yang akan meminta jasanya secara umum berurusan tidak dengan suasana hati penuh emosi, tapi dengan senyum. Notaris independen, tidak ada pihak yang menekan, yang mendikte, apalagi menggurui. Notaris tidak punya atasan, bukan pegawai negeri, tidak ada mutasi, apalagi demosi. Ia tidak digaji, tapi ia akan mendapat penghargaan (honor) dari orang yang memerlukan jasanya. Dan yang terpenting lagi, katanya, sebagian besar pekerjaan Notaris dituntun oleh undang-undang dan peraturan lainnya.

Saya pikir menarik juga, suatu profesi yang seratus persen bergantung kepada dirinya sendiri. Pekerjaan yang imbalannya bukan upah, tapi penghargaan (honorarium, honoraria). Saya pikir lagi, bukankah keinginan sekolah ke luar negeri itu pada prinsipnya untuk mendapatkan pendidikan dan pengetahuan ? Bukankah pendidikan dan pengalaman itu sebuah proses pengembangan diri untuk meningkatkan pengetahuan ? Bukankah pengetahuan itu diperlukan untuk menunjang pekerjaan/profesi kelak di kemudian hari ? Bila profesi sudah dipilih, haruskah pendidikannya ke luar negeri.  Akhirnya saya mantap mengikuti saran ayah. Akan saya raih gelar sarjana hukum, untuk selanjutnya akan mengikuti pendidikan strata dua bidang spesialisasi kenotariatan. Saya berpikir, biarlah obsesi saya saat itu tidak terpenuhi, tapi siapa tahu kelak anak saya yang dapat mewujudkan keinginan itu.

Esoknya, saya sampaikan niat itu kepada ayah, dan ayah menyambutnya dengan senang. Alhamdulillah, katanya, seraya berkata bahwa pada prinsipnya pendidikan apapun  yang akan ditempuh ayah akan mendukung, pokok yang penting memiliki bekal pengetahuan untuk lebih memahami makna hidup. Apapun profesi yang akan dipilih, katanya lebih lanjut, itu hanya sekadar jembatan, yang penting tetap bertakwa dan tawakal kepadaNya. Selanjutnya beliau berkata lagi: “Anakku, ketahuilah, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam ke dalamnya. Bila engkau ingin selamat, layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama takwa, isinya adalah iman dan layarnya adalah tawakal kepada Allah”.

                                                  Ayah dan Anak

Semula kalimat terakhir ayah itu tidak saya cerna dengan baik, akan tetapi setelah diingat-ingat, ternyata maknanya sangat dalam. Belakangan baru saya tahu ternyata ayah mengutip kalimat itu dari pesan-pesan dalam riwayat Lukman, orang biasa yang terpilih namanya diabadikan Allah dalam salah satu surat Al Quran, kepada anaknya.

Dua puluh lima tahun kemudian, Ananda Sabil Hussein, anak pertama saya lulus Sekolah Menengah Pertama. Ia berkeinginan sekolah di Jawa. Saya dan ibunya meluluskan kehendaknya. Jadilah ia sekolah di kota Malang, tempat di mana adik-adik dan kakak serta mertua dan ipar saya tinggal.

Ketika ia lulus Sekolah Menengah Atas, entah kebetulan atau tidak, ternyata ia memiliki keinginan yang sama seperti saya dulu. Ingin sekolah di luar negeri. Saya sangat mendukungnya, seolah-olah saya ingin melampiaskan obsesi dulu. Ketika libur, berangkatlah saya dan anak menuju Negara jiran, Malaysia, untuk melihat-lihat kampus di sana. Sempat kami menengok beberapa perguruan tinggi di sana, mulai dari Universiti Kebangsaan Malaysia, University Malaya, Sunway College di Shah Alam, Selangor, sampai University Sains Malaysia di Penang.

Pilihan jatuh ke Sunway College yang berafiliasi dengan Monash University di Melbourne. Kami langsung mendaftar untuk ikut tes masuk. Ketika saya menanyakan sekali lagi apa sudah mantap kuliah di sana, ia menjawab sudah mantap. Ketika ditanya mau jadi apa nanti ? Ia menjawab mau jadi dosen seperti ibunya. Saya sadar, kalau memilih pekerjaan sebagai dosen haruslah pandai, kritis, dan berwawasan luas. Maka sudah sepatutnya memiliki pengetahuan yang lebih manakala ingin memintarkan orang lain. Berbeda dengan saya dulu yang berkeinginan belajar di luar negeri namun tidak jelas ingin menjadi apa, pokoknya hanya ingin belajar di luar negeri.

Setelah beberapa waktu, saat tes segera tiba, tiket ke Kuala Lumpur sudah dibeli, tiba-tiba saja isteri saya yang semula setuju anaknya sekolah ke Malaysia memutuskan untuk melarang Ananda Sabil kuliah di sana. Alasannya sederhana, nanti kalau sekolah di sana, andai mendapat jodoh orang sana karena agama yang sama, budaya yang mirip sama, bahasa yang hampir sama, maka sang anak seolah-olah menjadi “hilang”, tidak akan kembali lagi. Apa mau dikata, saya tidak dapat berkata apa-apa lagi menghadapi naluri seorang wanita. Pupuslah harapan Ananda Sabil kuliah di luar negeri, hilang juga harapan saya yang seharusnya dapat diwujudkan oleh anak.

Tahun 2001 anak saya yang pertama itu diterima di Universitas Brawijaya Malang, dan tiga tahun tiga bulan kemudian, ketika ia berusia dua puluh satu tahun, sudah menyelesaikan studinya di Fakultas Ekonomi. Namun sayang, keberhasilan anak tidak sempat disaksikan ibunya. Menjelang akhir tahun 2002 ibunya tutup usia karena stroke hemorragik. Kami tidak dapat berbuat apa-apa selain bertawakal. Sedih sekali, lebih-lebih satu bulan kemudian seharusnya kami berangkat menunaikan ibadah haji.

Setelah menyelesaikan jenjang pendidikan strata satu, rupanya keinginan anak untuk menuntut ilmu tidak jua padam. Ketika suatu hari Ananda Sabil menyampaikan bahwa semua syarat untuk kuliah di University of Wollongong (UOW) sudah dipenuhi, saya langsung menyetujui. Wollongong adalah salah satu kota di Negara bagian New South Wales, Australia. Kota yang berpenduduk sekitar tiga ratus ribu orang itu ditempuh kurang dari sembilan puluh menit dengan bus atau kereta api dari pusat kota Sydney.                    Ananda Sabil & Keluarga Mrs. Sue Pilcher  –  Homestay

        Masih segar dalam ingatan, untuk menenteramkan hati melepas anak menuntut ilmu jauh di negeri orang, pada pukul 23.30, Kamis, 14 April 2005 saya dan Christian Kunthi, isteri saya, berangkat mengantarkannya dari Denpasar menuju Sydney. Setelah melapor ke Konsulat Jenderal RI di sana, kami menuju kota Wollongong yang masuk dalam Distrik Illawara. Sungguh kota yang nyaman dan sangat cocok untuk pelajar. Kotanya lengang, sangat bersih, tertata sangat apik, terlihat aman, penduduknya ramah, dan tidak hiruk pikuk.

       Kuliah di UOW bersama dua puluh dua ribu mahasiswa, empat ribu diantaranya mahasiswa internasional berbagai bangsa, amat menyenangkan. Kampusnya sungguh menawan, terletak di pinggir kota dengan menempati lahan seluas delapan puluh dua  hektar. Lingkungan yang adem, teduh, jauh dari kebisingan, apalagi dari deru mesin motor dan klakson mobil. Sekarang, obsesi saya untuk sekolah di luar negeri menjadi kenyataan, walaupun anak yang mewujudkannya.

                                       UOW’s five star education

Beberapa hari kemudian, setelah mengantarkan Ananda Sabil ke pondokannya selama masa orientasi di sana, dan setelah mengunjungi obyek wisata di sekitar kota Wollongong, kami bersiap-siap untuk kembali ke negeri sendiri. Di pagi buta, saat taksi menjemput kami, tibalah saat perpisahan. Ini adalah benar-benar momen yang sulit untuk dilupakan, lebih-lebih manakala mengenang ibunya yang telah tiada. Sebelum memasuki taksi, saya usap kepala sang anak, saya ucapkan doa Jenderal Douglas MacArthur yang sangat terkenal:

Tuhanku… Bentuklah puteraku ini menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya. Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan. Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan. Tetap jujur dan rendah hati dalam kemenangan. Bentuklah puteraku ini menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja. Seorang Putera yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan. Tuhanku… Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak. Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan. Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya. Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi, sanggup memimpin dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain. Berikanlah hamba seorang putera yang mengerti makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis duka. Putera yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah namun tak pernah melupakan masa lampau. Dan, setelah semua menjadi miliknya… Berikan dia cukup kejenakaan sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh namun tetap mampu menikmati hidupnya. Tuhanku… Berilah ia kerendahan hati… agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud, hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”.

Tak banyak kata yang diucapkannya. Bapak tidak usah cemas, aku bisa menjaga diri; terima kasih untuk semuanya, aku sangat bersyukur kepada allah SWT, katanya. Ketika taksi mulai bergerak tidak henti-hentinya saya memalingkan wajah ke belakang hingga sampai di tikungan jalan.

                              Happy Family – Bapak, Sabil, Ade, Kunthi

Pada hari Rabu, 12 Juli 2006 Ananda Sabil berhasil meraih gelar Master of Commerce dengan bidang studi Strategic Marketing. Kini ia mengabdi sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, telah menikah dengan pacarnya, Raditha Hapsari, dan dua setengah tahun lalu dikaruniai Alia Aydinna Raihannie, anak perempuan yang sangat lucu. Saat ini, sejak dua tahun lalu, ia mendapat tugas belajar untuk menempuh jenjang strata tiga di Lincoln University Canterbury,

                             Lincoln University Canterbury, NZ (Ivey Hall)

New Zealand untuk mendalami studi di bidang Social Marketing. Semoga Allah SWT mengijinkan dan meridhoinya, sehingga saya berani mengatakan: “Hidupku tidaklah sia-sia”

*****

Catatan Perjalanan Ke Negeri Kiwi ( 1): JENDELA DUNIA DALAM GENGGAMAN

“Manusia literer mampu berpikir abstrak, melihat substansi peristiwa. Cakap dalam melihat hubungan-hubungan peristiwa dalam struktur yang tetap. Orang begini tidak mudah dihasut, karena tidak melihat berdasarkan inderawinya tetapi akal budinya. Mereka mampu mengambil jarak dengan segala sesuatu di luar dirinya. Segala sesuatu dilihat obyektif apa adanya, dan bukan bagaimana nampaknya. Orang-orang ini kritis, berbuat setelah matang pemikirannya karena ia melihat perspektif kemungkinan-kemungkinannyaJakob Sumardjo (sumardjo.com/hangat-hangat-tahi-ayam/)

Banyak yang menarik perhatian kami ketika berkunjung ke Selandia Baru (New Zealand), negeri di belahan bumi selatan itu, pada awal bulan Januari tahun lalu. Pemandangan alam yang sangat indah, keramahan penduduk lokal, banyaknya sapi dan domba yang terlihat sehat dan gemuk berikut tempat merumputnya yang segar dan sangat terawat menjadi catatan tersendiri dalam benak kami. Namun yang paling menarik perhatian adalah dimana-mana, dan setiap ada kesempatan, orang disana menggenggam buku dan membacanya.

Hampir tiga minggu kami disana, selain Christchurch kami juga mengunjungi Auckland, dan kota wisata  Queenstown. Selama dalam perjalanan, mulai di ruang tunggu bandara, dalam pesawat, di perhentian bus, di taman-taman kebanyakan orang mengeluarkan buku dari dalam tasnya, dan membaca. Orang tua, anak muda, laki-laki dan perempuan hingga anak-anak, semua membaca. Tak pelak lagi, saya berada di tengah-tengah warga yang gemar membaca, masyarakat literer.

Pikiran saya ketika itu langsung melayang jauh saat bergaul dengan ayah semasa kecil. Beliau seorang yang Sekolah Rakyat saja tidak lulus, namun kegemaran membacanya luar biasa. Sampai hari ini pesan beliau lekat dalam ingatan. Ingatlah nak katanya, ilmu itu ada di dalam buku, oleh karena itu membaca adalah jendela dunia. Nampaknya kata bijak yang disampaikan ayah itu selaras dengan pepatah tradisional penduduk asli  Selandia Baru, Maori. “Ko te manu kai i te miro nona te ngahere, ko te manu kai i te matauranga nona te ao.” Burung yang makan dari pohon Miro memiliki hutan, burung yang makan dari pohon pengetahuan memiliki dunia.

Christchurch, kota kedua terbesar di Selandia Baru dan berpenduduk sekitar 350 ribu jiwa, memiliki luas wilayah 452 km2. Puluhan taman publik tersebar di berbagai tempat, sehingga tidak aneh kalau Christchurch berjuluk The Garden City. Di taman-taman itu banyak warga kota yang duduk-duduk bersantai di rumput sambil membaca buku.

Santai Membaca Di Taman, Queenstown, NZ

Ketika kami berada di Hagley Park, sebuah taman publik yang besar di tengah kota Christchurch, iseng saya hampiri seorang laki-laki yang asyik duduk di rerumputan taman sambil membaca buku, tampaknya sebuah literatur. Tom panggilannya, seorang petugas satpam di sebuah pabrik di pinggiran kota. Wah udara cukup gerah ya, katanya membuka pembicaraan.  Saat itu memang summer, tapi bagi kami cuaca di siang hari 14 derajat Celcius dan angin bertiup kencang harus memakai sweater.

Dari bincang-bincang santai dengan Tom siang itu saya banyak tahu kebiasaan membaca penduduk Christchurch. Di sana pada umumnya anak-anak usia dini sudah dibiasakan mengenal buku, bukan mengenal hurup. Orang tua tidak memaksakan kehendaknya agar si anak bisa membaca, apalagi menulis. Bangsa kami sadar bahwa orangtua tidak boleh terjebak dengan paradigma inteligensi akademik semata, katanya. Apa yang dikatakan Tom selanjutnya sama persis dengan pendapat Andy Sutioso, pengelola Rumah Belajar Semi Palar di Bandung, bahwa pendidikan dasar adalah saat dimana kita harus mengenalkan dunia yang harus dieksplorasinya, dimana anak-anak harus dibangun minatnya untuk bertanya, untuk berpikir kritis, untuk menggali dan mencari tahu tentang lingkungannya.

                                                                                       Si Kecil Berimajinasi

Ketika berada di Auckland dan akan kembali ke Christchurch, saya melihat sekelompok anak seusia 3 hingga 4 tahun berbaris rapi di dalam terminal keberangkatan Auckland Airport.  Sebelumnya, beberapa kali saya melihat hal yang sama di Changi Airport  Singapura. Tampaknya setelah berkeliling meninjau mulai dari konter pendaftaran, ban berjalan (belt conveyor), garbarata, hingga melihat pesawat dan berkenalan dengan pilot, pramugari sampai petugas keamanan, mereka didudukkan di lantai berkarpet yang bersih, mendapat penjelasan dari para gurunya. Rupanya saat itu sang guru sedang menerapkan apa yang dikatakan Albert Einstein: “Imajinasi adalah lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan adalah terbatas. Imajinasi mengelilingi dunia”.

Desa-desa di pinggiran kota (suburb) di Selandia Baru memiliki perpustakaan sendiri. Denyut kehidupan di desa-desa dapat dirasakan di perpustakaan. Perpustakaan di masing-masing suburb tidak hanya berurusan dengan buku seperti halnya perpustakaan kita disini, tapi dengan banyak hal. CD dan DVD tentang sejarah, alam, musik, rekreasi, olahraga dapat dipinjam bahkan dapat didengar (tentunya dengan headset) dan dilihat langsung disana. Jasa tentang informasi lowongan pekerjaan, peluang bisnis dan investasi di masing-masing desa juga tersedia. Bahkan pada perpustakaan tertentu dilengkapi dengan mainan anak-anak (toys library) yang dapat dipinjam orangtua, sekaligus dengan pelayanan oleh librarian tentang hal apa (motorik atau kognitif) yang akan dikembangkan terhadap anak-anak.

Lincoln, salah satu desa pinggiran di distrik Selwyn, Canterbury yang berpenduduk 3 ribu jiwa dan ditempuh 20 menit dari Christchurch, memiliki perpustakaan yang setiap anggotanya dapat mengakses secara online 1.500 surat kabar dari seluruh dunia. Rumah anak saya, ketika itu, kebetulan berseberangan dengan perpustakaan itu, sehingga sehari-hari kami melihat ramainya perpustakaan dikunjungi warga. Orang tua, anak muda hingga anak-anak silih berganti mengunjunginya

Lincoln Service Centre And Library

Suburb New Brighton, 30 menit dari Christchurch, memiliki perpustakaan yang istimewa karena letak dan bangunannya di pantai menghadap Samudera Pasifik Selatan dengan pemandangan yang menakjubkan. Perpustakaan disana buka tujuh hari seminggu. Pada hari sabtu dan minggu sangat ramai dikunjungi warga. Di dalam perpustakaan ini disediakan ruang bermain anak-anak, parenting room, ruang pameran seni, ruang pertemuan, layanan internet gratis, hingga cafe.  Perpustakaan disana tidak tidak lagi hanya tempat meminjam buku, tapi sudah menjadi tempat rekreasi keluarga. Andaikan ketika itu ada waktu, sudah pasti  di sana saya akan meminjam CD dan mendengarkan musik dari kelompok Chicago, duduk di sofa empuk ditemani cappucinno sambil melihat ombak bergulung-gulung. Entah sekarang apakah perpustakaan itu masih dibuka setelah gempa yang cukup dahsyat menggoyang Christchurch.

Maka, tidak heran bila berdasarkan laporan UNDP, Index Pembangunan Manusia tahun 2009 yang salah satu ukurannya melek huruf, Selandia Baru menduduki peringkat 20 dari 182 negara, sedangkan Indonesia berada di peringkat  111 jauh di belakang Malaysia yang berada di peringkat 66 dan Thailand 87. Mengapa budaya literer di negara kita tidak berkembang ? Apakah karena budaya lisan lebih disukai, hal mana ditandai dengan maraknya orang bertelpon ria di mana-mana ? Apakah karena masyarakat kita lebih suka menonton acara tv, lebih suka mendengar dan melihat ? Silakan anda menjawabnya.

DARI BANJAR SAMPAI PARIS 7): Keramahtamahan Lucerne

        

Engelberg, Swiss

 Kebanyakan orang mengenal Swiss sebagai negara pembuat arloji bermerek seperti Rolex, Patek Philippe, Panerai, Omega, IWC, Tag Heuer, hingga Oris, Longines atau Tissot, atau mengenalnya karena pisau lipat Victorinox. Kalangan perbankan atau orang-orang berduit menyebut Swiss sebagai “safe heaven”, tempat potensial (bagaikan surga) untuk menyimpan uang. Nah di kalangan perhotelan, Swiss terutama Lucerne, adalah idaman para siswa dan karyawan hotel untuk menempuh pendidikan manajemen hospitality dan kulinari di sana.

Sejak dulu kalangan perhotelan di negara kita menganggap Lucerne sebagai kiblatnya pendidikan manajemen keramahtamahan hotel. Banyak orang meyakini bahwa ke depan Swiss, salah satunya kota Lucerne, diramalkan akan terus mempertahankan posisinya sebagai penyedia  manajemen hospitality dan kepariwisataan terbesar tingkat dunia. Hari itu, Minggu 15 May, aku merasakan keramahtamahan yang hangat Grand Hotel Europe, tempat kami menginap di sana.  Sekitar pukul 05:30 waktu setempat, saat udara dingin dengan temperatur 9 oC, di kamar aku sudah

Dok. Grand Hotel Europe (www.europe-luzern.ch)

gelisah karena biasanya di pagi hari sudah baca koran ditemani secangkir kopi.

Ketika itu lobby hotel masih sepi, apalagi restaurannya yang seharusnya buka pukul 06.30. Iseng aku masuk ke restoran dimana ada seorang waiter yang lagi sibuk menyusun peralatan makan. “Ada yang bisa dibantu ?” , katanya. Aku bilang aku mau beli secangkir kopi susu. Dia bilang restoran masih tutup dan jadwal grup kami nanti sarapannya pukul 07.00. Tapi tunggu sebentar, katanya. Tidak lama, setelah dia masuk ke ruang lain, waiter tadi keluar membawa secangkir kopi susu dengan sepotong chocolate chip. Segar mataku melihatnya, dan kutanya berapa aku harus bayar. Sambil tersenyum dia bilang:  “Anda kan datang tadi malam, itu (kopi susu) gratis, anggap saja minuman selamat datang di Lucerne dan di hotel kami”.

Lucerne, atau orang setempat menyebutnya Luzern, adalah ibukota kanton (wilayah) Luzern, terletak di Swiss bagian tengah, berpenduduk sekitar 75 ribu jiwa. Walau penduduknya sedikit, tapi kota yang berada di tepi danau Luzern ini mampu menampung kunjungan 5 juta wisatawan setiap tahunnya, luar biasa. Aku menyaksikan sendiri bagaimana hari itu kota Lucerne menampung kedatangan 1.300 sekaligus wisatawan tur insentif Amway India. Bagaimana mereka mengatur dan menyediakan akomodasi, konsumsi, dan transportasinya, bandingkan dengan kota

Restaurant  Dok. Grand Hotel Europe (www.europe-luzern.ch)

Banjarmasin, yang berpenduduk 750 ribu  jiwa ketika menerima 3.000 tamu peserta dan penggembira dalam Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) Nasional awal Juni lalu.

Tidak jauh dari kota Lucerne ada beberapa puncak gunung terkenal  yang merupakan bagian dari pegunungan Alpen, Jungfraujoch (3454 m), Pilatus (2128 m), Rigi (1797 m), dan Titlis (3238 m).  Hari itu kami diajak mengunjungi puncak Mount Titlis, salah satu wisata pegunungan di Lucerne yang terkenal dengan salju abadinya. Bagi kami yang sehari-harinya tinggal di Banjarmasin, kota   dimana ketinggian tanah berada pada 0,16 meter di bawah permukaan laut dan hampir seluruh wilayah digenangi air pada saat pasang, berada di ketinggian tentu merasakan sensasi yang khas dan tersendiri.

                                                                                      Di Kaki Gunung Titlis, Engelberg – Lucerne

Kurang dari satu jam kami sampai di Engelberg, desa dengan ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut  berpenduduk sekitar 5 ribu jiwa dan tempat tetirah terkenal di Swiss Tengah, yang terletak di kaki gunung Titlis. Untuk mencapai puncak Titlis kita harus menggunakan Rotair Titlis, wahana khusus berupa kereta gantung. Stasiun pertama yang merupakan pintu masuk di lembah Engelberg itu kami naik kereta gantung yang dapat memuat enam orang.

Ketika meninggalkan stasiun Engelberg, kereta gantung naik tajam mendaki gunung, badan terasa melambung ke langit biru bagai dibawa angin kencang, kami yang berada di dalam kereta kabel berpegang erat pada bangku yang ada. Namun ketakutan di ketinggian sirna ketika sampai pada dataran yang agak rata disuguhi pemandangan alam yang  luar biasa. Hamparan rumput hijau di bawah kereta gantung, beberapa bangunan menyendiri dan sekawanan sapi yang sedang merumput di lereng gunung yang pada lehernya digantung lonceng serentak berbunyi karena sapi-sapi mengangguk dan menggeleng mencari rumput, menimbulkan suara dengan irama yang khas. Luar biasa, hingga kini terngiang di telinga suara lonceng anggukan sapi-sapi itu.

                                                                                    Gerschnialp, Engelberg, Swiss

Tidak lebih dari 10 menit, kami sampai di stasiun Gerschnialp, dengan ketinggian 1262 meter di atas permukaan laut.  Di sini kami tidak turun dari kereta gantung tapi dengan wahana yang ada kami langsung menuju stasiun perhentian kedua. Di stasiun ini, Trubsee namanya yang berketinggian 1800 meter, kami berganti wahana. Kereta kabel kedua ini berbentuk seperti bus, mungkin lebih tepat disebut gondola bus gunung yang dapat memuat 80 orang sekaligus, namun tidak ada tempat duduk, jadi semuanya berdiri.

Dalam perjalanan, di bawah kereta masih terlihat hamparan rumput hijau, namun nun jauh di atas sana sudah terlihat puncak gunung Titlis yang tertutup salju. Lebih kurang 10 menit sampailah di stasiun Stand di ketinggian 2428 meter. Di perhentian ini pengunjung berganti wahana yang disebut gondola Rotair, yang dapat memuat  80 orang. Dalam wahana ini penumpang semua berdiri, dan hebatnya lantai Rotair berputar 360 derajat sehingga penumpangnya dapat melihat panorama sekelilingnya yang spektakuler. Saat berada di stasiun Stand salju sudah terlihat di mana-mana, dan ketika berada di ruang terbuka menunggu antrian masuk ke Rotair dingin sudah terasa tak tertahankan.

                                                                                     Rotair Titlis (Dok titlis.ch)

Lima menit berada di gondola (yang lantainya) berputar yang pertama di dunia sampailah kami di stasiun gunung Titlis. Di gedung stasiun puncak ini ada beberapa lantai yang bisa ditemukan restoran, cafe, depot es krim, foto studio (pakaian tradisional Swiss atau pakaian ski), toko arloji, dan teras di atapnya yang bisa merasakan bermain salju.

Hari itu di stasiun Engelberg hingga puncak Titlis sangat padat, semua tempat mulai dari toilet, naik kereta kabel hingga segala aktivitas di sana antri, maklum rombongan kami bersamaan dengan grup tour insentif dari Amway India yang berjumlah ratusan orang. Lagi-lagi aku menemukan keramahtamahan Swiss, kali ini di cafe Titlis. Ketika aku membeli cappuccino, pelayan yang ketika itu hanya satu-satunya kewalahan melayani sekian banyak tamunya. Berkali-kali dia mohon maaf dan minta aku menunggu sejenak. Berkali-kali pula aku mengatakan no problem karena memaklumi keadaannya. Akhirnya dengan senyum diantarkannya kopi pesananku. Biasanya cappuccino dilengkapi dengan sepotong chocolate chip, tapi kali ini ada dua potong.

                                                                                       Kunthi Bermain Salju di Gunung Titlis

Puas bermain salju dan menikmati pemandangan spektakuler yang tak terlupakan di puncak Titlis, setelah lebih kurang 3 jam di sana kami kembali turun ke Engelberg dan langsung naik bus untuk kembali ke kota Lucerne.

Dalam bus, iseng aku melempar joke kepada rekan seperjalanan di bus: “Adakah yang tahu, wanita dari negara mana yang paling pemberani ?” Ada yang menjawab wanita dari Indonesia, alasannya ditinggal suami kerja tahunan sebagai TKI tidak takut. Ada yang menjawab wanita dari Swiss, alasannya tidak takut main ski sendiri berdingin-dingin di puncak gunung. Banyak negara yang disebut dengan berbagai alasan, tetap aku bilang semua salah. Aku bilang: “Wanita paling pemberani adalah dari India”. Alasannya ? Ketika tadi aku ada di toilet (tentu saja) laki-laki, tiba-tiba nyelonong beberapa ibu-ibu dari India dan masuk begitu saja ke toilet laki-laki menggunakan klosetnya. Para lelaki kebanyakan buang air kecil di urinoir, jadi kloset jarang digunakan. Rupanya mereka sudah tidak tahan antri berlama-lama di toilet wanita.

Ketika kembali ke kota kami diajak ke toko arloji & perhiasan Bucherer, toko milik keluarga yang dibuka pertama kali oleh Carl-Friedrich Bucherer pada tahun 1888. Hari itu tidak banyak toko yang buka, maklum hari minggu. Lagi-lagi toko arloji Bucherer dan toko lainnya di sekitar sana dipenuhi oleh turis asal Asia, terutama India dan Cina. Aku pikir dalam 10  tahun ke depan mungkin keadaan sudah berbalik. Dahulu di negara kita dan negara-negara Asia lainnya, umumnya yang disebut  turis itu adalah pelancong dari Eropa dan Amerika, kini warga Asia lah yang menjadi pelancong di sana.

                                                                                                  Bucherer – Lucerne

Lepas dari toko Bucherer yang terkenal itu, kami menyempatkan mengambil foto dengan objek danau Luzern dan The Chapel Bridge. Jembatan yang terkenal itu dibangun tahun 1333 sebagai bagian dari pertahanan kota, dan didekatnya ada bangunan menara air  bersegi delapan yang dahulu berfungsi sebagai ruang tanahan dan penyiksaan. Kedua bangunan itu sekarang menjadi landmark  kota Lucerne.

                                                                                               Chapel Bridge – Lucerne

Selanjutnya kami diajak menuju monumen singa. Monumen singa sekarat terkena tombak itu setinggi enam meter dan panjang sepuluh meter, dipahat pada tahun 1819 di atas bukit batu yang ditambang  selama berabad-abad untuk membangun kota.

                                                                                             Monumen Singa – Lucerne

Monumennya sih biasa-biasa saja, tapi sejarah latar belakangnya yang luar biasa karena menggambarkan keperkasaan dan kegigihan tentara (bayaran)  Swiss yang kehilangan nyawa ketika para revolusioner menyerang istana Tuileris, tempat dimana  Louis XVI Raja Prancis bermukim, ketika terjadi Revolusi Prancis. Garda Swiss yang menjadi pengawal raja dibantai demi menyelamatkan keluarga kerajaan agar mereka bisa kabur. Maka, dipahatlah prasasti berbahasa latin di atas monumen itu: Helvetiorum Fidei Ac Virtuti (“Untuk loyalitas dan keberanian dari Swiss”). Nama 760 prajurit yang tewas dan 350 yang hidup juga dipahat di sana.  Dari situlah mungkin sekarang kita kenal Swiss Army atau Garda Swiss (Swiss Guard) yang juga mengawal Vatikan.

Sebenarnya masih banyak objek wisata di Lucerne, namun karena sudah malam, selepas meninjau monumen singa kami kembali ke hotel, dan langsung tidur dengan nyenyak. Esok paginya, ketika sarapan kami tidak hanya disuguhi makan pagi ala Eropa tapi juga ada menu nasi, kata orang hal yang langka ditemukan di hotel kota-kota di Eropa. Lagi-lagi kami disuguhi keramahtamahan Lucerne.  Sungguh suatu kenangan yang sulit untuk dilupakan.

DARI BANJAR SAMPAI PARIS 6): Sehari Tiga Negara

Rural Landscape, Tyrol - Austria

Walau morning call belum saatnya, pukul 04:00 hari itu, Sabtu 14 Mei, aku & Kunthi sudah bangun. Sambil menunggu Kunthi shalat bergegas kubuka iPad karena ingin tahu perkembangan pak Abink, anak kami di Christchurch, NZ yang baru menjalani operasi batu empedu.  Kali ini berbeda dengan hotel sebelumnya tempat dimana kami menginap. Ketika di Roma dan Prato, hotel kami tidak menyediakan fasilitas wi-fi dalam kamar, dan lift kuno yang ada juga membuat kesal banyak orang.

Smart Hotel Holiday yang berbintang 4, walau ada di sekitar jalan raya A4 ringroad Venezia Mestre, tapi wi-fi dalam kamar lancar dan gratis, lift bagus, dan kamarnya simpel menyenangkan. Namun tetap saja kita tidak boleh terjebak dengan klasifikasi bintang hotel, karena ternyata sistem klasifikasi bintang untuk tahu mutu dan kualitas sebuah hotel berbeda, setidaknya antara hotel-hotel di Asia umumnya dengan Eropa.  Bila hotel bintang 4 di negara Asia biasanya tamu dimanja dengan disediakan sabun, shampoo, sikat gigi & pasta, sisir, shower cap, cotton bud, disposal bag dan lainnya, tampaknya amenities hotel-hotel di Eropa untuk bintang yang sama cukup ada sabun dan shampoo saja. Juga tidak disediakan tea – coffee making facilities dalam kamar.

Hari itu tujuan kami adalah kota Lucerne atau Luzern, Swiss yang berjarak tempuh sekitar 360 km. Sebelum berangkat, hal pertama yang aku cek adalah cuaca di Lucerne, dan keadaan negara Swiss. Saat akan berangkat, pukul 09:00 di Mestre temperatur berkisar 20 oC dan temperatur umumnya di Lucerne pada bulan Mei berkisar 18 oC pada siang hari dan 9 oC di malam hari.

Karena perjalanan Venezia – Lucerne cukup panjang, sekitar 6 sampai 7  jam perjalanan dengan bus bila kecepatan rata-rata 65 km/h, tidak lama setelah bus berjalan tour leader kami menawarkan: apa mau langsung ke Lucerne, atau mampir ke Innsbruck, Austria, atau melalui Milan, Italia ?

Innsbruck adalah kota pegunungan di Austria yang terkenal dengan olimpiade musim dingin, Milan adalah ibukota region Lombardia, dikenal sebagai kota fashion dan pusat ekonomi Italia. Milan juga homebasenya klub elit sepakbola AC Milan dan Inter Milan, dan perusahaan terkenal di Italia seperti Alfa Romeo, Bugatti, Pirelli, Versace, Dolce & Gabbana,   Armani, Prada.

Singkatnya, setelah diadakan voting dalam bus, ternyata mayoritas memilih ke Lucerne via Innsbruck. Maka jadilah kami ke salah satu kota di Austria. Berarti setelah pagi sarapan di Italia, makan siangnya di Austria. Sepanjang perjalanan menuju Innsbruck, pemandangan alam pedesaannya sangat mengesankan. Melihat sekilas dari dalam bus, sangat jelas Austria – setidaknya di negara bagian Tyrol yang beribukota Innsbruck – negara makmur.

Golden Roof, Innsbruck - Austria

Tiba di Innsbruck kami diturunkan di pusat kota lama, tempat dimana beberapa objek wisata berada. Salah satunya yang terkenal dan mungkin paling banyak difoto orang adalah “Golden Roof” yang kini menjadi simbol kota. Golden Roof sebenarnya “hanyalah” balkon berlantai tiga yang atapnya berlapis emas, dibuat oleh Pangeran Friedrich IV pada awal abad 15 untuk menghormati perkawinan kedua Kaisar Maximilian I, penguasa Kerajaan Romawi Suci, dengan anak  adipati Milan, Bianca Maria Sforza.    Ceritanya balkon itu untuk kaisar Maximilian duduk di singgasananya sambil menikmati turnamen atau kegiatan warganya di alun-alun yang ada di bawahnya.

Innsbruck, salah satu kota tercantik di Eropa, memiliki banyak tempat wisata yang perlu dikunjungi, termasuk bangunan terkenal bergaya Barok dan Gotik, museum, gereja, taman dan kebun, tapi kami tidak punya banyak waktu. Maka, setelah puas menjelajah jalan utama tempat turis duduk-duduk dan berfoto ria, Maria Theresien Strasse, dan setelah makan di Mc’D, kami melanjutkan perjalanan menuju Lucerne.

Old Town, Innsbruck

          Setelah menempuh lebih kurang 230 km dari Innsbruck, pukul 21:00 waktu setempat sampailah kami di kota Lucerne dan langsung menuju hotel tempat kami menginap, Grand Hotel Europe, hotel bintang 4 bergaya klasik (dibangun tahun 1872) yang menggabungkan masa lalu dengan tampilan kontemporer.

          Kedatangan kami malam itu di Lucerne disambut hujan deras, namun ketika  memasuki bangunan hotel terasa keramahan yang hangat khas Swiss, padahal ketika itu temperatur 10 oC. Akhirnya, karena sudah larut malam dan hujan deras, bekal yang  dibawa dari Innsbruck, nugget & kentang plus coklat kami santap di kamar. Maka, lengkaplah hari itu sarapan di Italia, makan siang di Austria, dan makan malam di Swiss.

DARI BANJAR SAMPAI PARIS 5): Venezia, Kota Seribu Kanal

Venezia Islands

          Hari keempat perjalanan kami dengan “West Europe 13D”  …………… Travel (travel biro cukup ternama di ibukota) adalah mengunjungi Venice atau Venezia yang terletak di sebelah Utara negara Italia. Saya lebih suka menyebut Venezia, karena Venice juga ada di banyak negara bagian Amrik. Ada Venice di California, Florida, Illinois, dan di Louisiana. Venezia adalah ibukota Veneto, yaitu wilayah/region Italia yang berbatasan dengan Austria dan sebelah timurnya berbatasan dengan Laut Adriatik.

           Dalam benak saya Venezia itu lekat dengan gondola, dan juga tempat lahirnya penulis dan petualang Marco Polo dan Casanova, serta lokasi pengambilan banyak film terkenal, sebut saja film-film James Bond seperti From Rusia with Love, Moonraker, Casino Royale, Fellini’s Casanova yang dibintangi Donald Sutherland, Italian Job, The Merchant of Venice, Lara Croft Tomb Raider, dan terakhir The Tourist yang dibintangi Angelina Jolie & Johnny Depp.

Kunthi - Jukung Venice - Gondolier - Ponte di Rialto

Venezia adalah kota wisata berpenduduk sekitar 270 ribu jiwa. Semula saya kira kota Venezia itu berada di suatu daratan saja, ternyata tidak. Venezia terbagi dua, yang satu di sebut Venezia Mestre (diucapkan may-stray), yaitu bagian dari kota Venezia yang menyatu dengan daratan Italia lainnya, sedangkan Venezia lainnya adalah kumpulan dari 118 pulau kecil yang disebut laguna Venezia  yang terbagi dalam enam distrik (sestieri). Nah, tujuan kami adalah Venezia yang ada di salah satu dari pulau-pulau tadi, yaitu sestieri (distrik) San Marco – tempat dimana obyek utama wisata Venezia berada seperti Lapangan St Mark, Basilika Santo Markus, Istana Doge, Bridge of Sigh, Ponte di Rialto, Dandolo Palazzo San Moise, La Fenice teater.

Setelah melewati Ponte Della Liberta, jembatan penghubung Mestre dan kepulauan Venezia, sampailah kami di Tronchetto, yaitu lahan reklamasi yang nempel di Venezia tempat parkir kendaraan nan luas. Dari sana kami naik taksi air yang disebut vaporetti menuju distrik San Marco. Belum sampai tujuan, kami sudah dibuat berdecak kagum dengan pemandangan di kiri kanan dari kanal yang kami susuri. Bangunan-bangunan kuno seperti yang biasa hanya dapat dilihat di film-film, sekarang ada di depan mata, membuat Kunthi sibuk dengan kameranya. Tidak sampai 1 jam menyusuri grand canal, sampailah rombongan kami di dermaga tidak jauh dari piazza San Marco.

Di tengah-tengah hilir mudik dan hiruk pikuk turis manca negara, aku ucapkan puji syukur kepada yang kuasa yang memberi kami kesempatan untuk menginjak salah satu kota unik di dunia. Di Venezia tidak ada mobil lalu lalang. Jalan hanya digunakan untuk pejalan kaki, dan sarana transportasi hanya taksi air melalui kanal-kanal sempit di muka maupun di belakang bangunan. Tidak salah kalau Venezia disebut kota seribu kanal.

Piazza San Marco - Alun-alun Venezia

Puas berfoto di sekitar objek wisata wajib seperti Palazzo Ducale (istana Doge), basilika, St Marks Square berikut menara observasinya, bridge of sigh,   ponte di Rialto, lalu kami mencoba naik gondola. Di Banjarmasin, yang biasa disebut Banjar (kota tempat kelahiranku) kami sudah terbiasa naik “gondola” yang di sana disebut Jukung. Tapi naik “jukung” di Venezia beda, ada sensasi tersendiri; utamanya karena bersampan di sekitar bangunan yang didominasi bergaya Renaisans dan Gotik, dan pedayungnya bule.

Hal lain yang menarik perhatian ketika di Venezia kepulauan ini adalah: di setiap sudut kota ada turis, turis dan turis, serta orang-orang yang mencari nafkah dari para turis. Segalanya mahal, mulai harga makanan dan minuman, pakaian, tarif kamar hotel,  hingga souvenir, maklum kota turis. Sekali masuk toilet umum 1,5 Euro atau sekitar Rp 20 ribu, mungkin toilet termahal di dunia. Toko-toko yang menjual barang branded ada di mana-mana, namun letaknya berhimpit diantara gang sempit, khas jalan di Venezia.

Setelah membeli sekadar souvenir, termasuk gambar khas bangunan terkenal Venezia, kami langsung  menuju titik pertemuan di sekitar jembatan bridge of sigh. Di sore hari itu juga, dengan  vaporetti, kami kembali menuju tempat bus diparkir dan meninggalkan Venezia kepulauan menuju Smart Hotel Holiday di Mestre, tempat kami menginap. Singkat sekali berada di Venezia, kota seribu kanal, bagai mimpi.

DARI BANJAR SAMPAI PARIS 4): Toilet Stop dan Pisa

Rest Area - A1 Italy

Hari itu Kamis, 12 Mei 2011. Hotel yang kami tempati, Palace Inn (ex Holiday Inn), berada di via Milano, di pinggiran kota Roma.  Ketika waktu sarapan, banyak peserta tour yang mengeluarkan bekalnya, IndoMie dalam cup.  Bagi mereka yang sudah biasa makan nasi tentu saja tidak berselera, karena makan pagi yang disediakan hotel berbintang tiga ini hanya roti bundar (agak keras) dalam kemasan, biskuit, sereal, aneka keju, selai, dan salad, serta ditemani orange juice dan teh aneka rasa serta coffee maker yang dapat membuat cappuccino, espesso, macchiato dan kopi lainnya. Mungkin kami berbeda pandang dengan kawan seperjalanan. Kami (aku & Kunthi) berprinsip makan apa yang dihidangkan, asal halal. Kami tidak hanya ingin tahu alam, budaya, dan karakter orang di suatu tempat, tapi juga ingin merasakan makanannya. Rasanya tidak lengkap bila sosok berada di Italy tapi sarapannya Pecel Glintung atau Soto Lombok, nggak matching.

Kunthi "model" Fini Grill😉

Pukul 9 pagi bus kami, buatan MAN Jerman, long distance bus yang sangat baru, meninggalkan hotel menuju kota Pisa berjarak 350 km jauhnya. Objek wisata yang dilihat tentu saja menara miring Pisa. Sopir bus bernama Luca, masih muda, gagah, ngganteng bagai bintang film barat umumnya, menjalankan kendaraan dengan elegan, mantap, membuat kami merasa ayem. Kecepatan rata-rata sekitar 100 km/h, jadi diperkirakan sekitar 3,5 jam lebih kami akan sampai di kota wisata Pisa.

Menurut tour leader kami, di Eropa ada aturan ketat untuk berkendara, setidak-tidaknya untuk pengendara bus wisata. Mereka tidak diperkenankan mengendarai bus lebih dari 2 hingga 2,5 jam. Jadi, bila sudah 2 jam di perjalanan, bus kami berhenti di tempat peristirahatan sekitar 20 hingga 30 menit. Biasanya 5 menit sebelum sampai rest area, Fabio si tour leader kami mengumumkan “toilet stop”.

Rest area yang kami kunjungi di sepanjang perjalanan di Italy sangat bersih. Selain ada SPBU juga ada beberapa tempat makan, cafe dan mini market yang lengkap, termasuk toilet. Fini Grill, makanan sehat cepat saji yang terkenal di Italy, sering menempati salah satu outlet di rest area jalan tol. Masuk toilet yang tersedia, bila di ada luar mini market, gratis. Tapi bila ada di dalam mini market, harus bayar lumayan mahal, sekitar Rp 12.500. Ternyata nanti ada lagi toilet yang lebih mahal, mungkin termahal di dunia, yaitu di Venice yang sekali masuk toilet sekitar Rp 25.000. “Beruntung” kami pernah merasakan toilet termahal di dunia … ahahaha.

Masuk kota Pisa yang berpenduduk sekitar 90 ribu jiwa ternyata tidak langsung melihat menara Pisa. Bus berhenti di “ladang bus wisata” yang ketika itu ada mungkin hampir seratus bus, tidak boleh langsung ke lokasi menara miring itu. Dari sana kita diangkut bus dalam kota. Sekitar sepuluh menit sampailah ke tujuan. Ternyata menara Pisa itu ada dalam satu komplek seluas kira-kira tiga kali lapangan bola yang menampung empat bangunan bersejarah.

Kunthi "menahan" Pisa

Menara Pisa, atau orang sana menyebut Torre Pendente (Leaning Tower) adalah sebuah bangunan setinggi 56 meter tempat letaknya lonceng (menara lonceng) dari katedral kota Pisa yang berada di sampingnya. Menara ini dibangun abad 12 yang diselesaikan hampir 177 tahun. Karena salah konstruksi (pondasi hanya tiga meter), ketika dibangun lantai kedua dari delapan lantai, pondasi bangunan sudah ambles. Maka bangunan dihentikan; seratus tahun kemudian baru pembangunan dilanjutkan tanpa membetulkan kemiringan. Maka jadilah si menara lonceng tadi bangunan terkenal di dunia.

Bangunan lain dalam komplek itu adalah Katedral Pisa (Duomo di Pisa), dan Baptistery, serta Campo Santo. Katedral atau Duomo atau Dome dibangun di abad 11. Kalo Baptisan (kalo tidak salah “baptis” = ritual inisasi kristen, yaitu suatu upacara keagamaan yang melambangkan pembersihan dosa) dibangun abad 12. Bangunan baptisan ini oleh para arsitek disebut bangunan bergaya transisi antara gaya Romawi ke gaya Gotik. Sama seperti katedral, baptisan ini dilapisi full marmer. Bangunan yang satu lagi, Campo Santo (Holy Field), adalah kuburan. Bangunan ini juga bergaya gotik, dipercaya dibangun dengan membawa sekapal tanah suci dari Golgota setelah usai Perang Salib Keempat (1202 – 1204).

Puas berfoto dan melihat-lihat bangunan terkenal itu, kami makan es krim yang lezat sambil menyusuri deretan kios yang berjualan cendera mata. Sekitar pukul 20:00 waktu setempat (masih terang bagai pukul 17:00 di tempat kita) kami beranjak menuju terminal bus untuk melanjutkan perjalanan ke kota Prato, satu jam perjalanan dari Pisa untuk menginap di Hotel Delta.

Dari Banjar Sampai Paris 3)

 Italia, Dari Brutus Hingga Ferragamo

Entah mengapa, ketika hari itu, Rabu, 11 Mei 2011 menjejakkan kaki di bandar udara internasional Leonardo da Vinci, aku teringat dengan Brutus. Dalam sejarah, Brutus dikenal sebagai salah seorang Senator Kota Roma dan sahabat karib Julius Caesar, kaisar Roma yang dibunuhnya. Melekat dalam benakku kata-kata terakhir Caesar sebelum menghembus nafas terakhir: “ Et tu, Brute ” (Dan engkau juga, Brutus?) Itu salah satu sejarah, sejarah hidup manusia yang berkisar diantara persahabatan dan penghianatan.

Di hari kedua perjalanan kami itu, dari bandar udara di kota Roma kami langsung diajak putar-putar melihat peninggalan sejarah yang dahsyat. Kami melihat langsung St Peter Basilica, Vatican – itu tempat pusat agama Katolik dimana Paus bertahta. Luar biasa mewah dan megahnya. Selanjutnya berfoto di sekitar Colloseum tempat dahulu gladiator bertarung. Kemudian perjalanan berlanjut ke Roman Forum, tempat yang kini ditandai dengan reruntuhan pilar gede-gede, yaitu pusat kehidupan publik Roma jaman dulu. Aku membayangkan dimana di forum itu dahulu orang bebas berpidato menyampaikan pendapatnya, juga tempat prosesi mengumumkan kemenangan atau pemilihan, hingga tempat si terpidana diumumkan hukumannya.

Objek wisata selanjutnya, setelah Trevi Fountain dan melihat patung pemersatu Italy, Vittorio Emmanuelle, adalah Sungai Tiber yang membelah kota Roma. Sungai ini juga menyimpan sejarah kelam, salah satunya adalah pernah menjadi tempat dibuangnya mayat  Paus Formosus, pemimpin gereja Katolik dan kepala Negara Vatican pada tahun 891 – 896. Paus Stefanus VI, penerus Paus berikutnya yang bermusuhan dengan Formosus menggali kuburnya dan mendakwa Formosus (yang sisa tulang belulang) menjarah biara-biara di Roma, memberikan komuni tanpa memperhatikan larangan gereja, dan menentang kaisar.

Jenazah Formosus digali, dipakaikan jubah kepausan, dan didudukkan di atas sebuah kursi tahta untuk menghadapi semua tuduhan, dalam Pengadilan Anumerta, yang telah dituduhkan sejak zaman Yohanes VIII. Hasil putusannya menyatakan bahwa Formosus tidak layak menjabat sebagai Paus, kemudian tiga jari tangan yang sisa tulang dipotong, dan atas suruhan Paus Stefanus VI tulang belulang Formosus dibuang ke sungai Tiber … ck ck ck. Wah ini cerita jalan-jalan apa pelajaran sejarah ?

Sehari di Roma benar-benar menjelajah kemana-mana. Tidak hanya obyek wisata, tapi termasuk apa yang berbau Italy dirasa, dicoba. Mulai dari Pizza, Spaghetti, Ravioli, Lasagna, Parmigiano-Reggiano, termasuk cappucino, semuanya asli ….. hehehe dari Italia.

Roma dan Italy memang top dan keren. Masyarakatnya ramah walau pembawaannya agak kasar, ceweknya cantik-cantik, cowoknya kayak Alain Delon semua, pokoknya Italy memang top. Siapa yang tak kenal desainer Italia seperti Gucci, Armani, Versace, Bruno Magli, Gianfranco Ferre, Prada, Tonino Lamborghini, Testoni, Ferragamo. Belum lagi klub sepak bola elit mereka seperti AC Milan, Inter Milan, Udinese, Napoli, AS Roma, Sampdoria, Bologna, Parma.

Namun sayang kehebatan Italia serasa pudar ketika kami check in hotel setelah seharian mengunjungi objek wisata. Hotel Delta yang berbintang empat, tempat kami menginap di Roma, liftnya sama seperti lift umumnya di Indo 20 tahun lalu. Makan paginya sangat sederhana, roti atau sereal ditambah aneka keju dan sayur mentah.

Dari Banjar Sampai Paris: Petualangan Dimulai

Rute: Banjar – ( S-Hatta – Changi – Kemal Attaturk Airport) – Roma

Karena terbiasa, maka pada hari kedua ini di pesawat kita rame-rame gosok gigi, cuci muka, bahkan ada peserta tour yang ganti baju. Dalam tas tenteng kita sudah siapkan sikat gigi, odol, sandal, jaket, kaos kaki tebal. Semua itu untuk mengantisipasi perjalanan panjang di pesawat.

Banjar – ( S-Hatta – Changi – Kemal Attaturk Airport) – Roma Sub judulnya aneh kan, nggak ditulis Jakarta, Singapore atau Istanbul ! Tapi itulah kenyataannya, karena perjalanan hari itu hanya transit di bandara saja, tidak masuk kota. Inilah ceritanya. …Beberapa hari sebelum 10 Mei 2011, hari keberangkatan kami ke Eropa Barat, kami resah.

Mendekati hari keberangkatan kok belum ada kabar visa yang diajukan via kedubes Prancis dan Italy, sudah dapat atau belum. Tapi pihak Bayu Buana selalu mengatakan tenang saja, tidak jarang kata mereka sehari menjelang keberangkatan visa baru diterima. Sementara itu di awal Mei kami sudah sibuk memilih baju atau jaket dan kelengkapan yang akan dibawa. Obat-obatan juga sudah disiapkan, mulai dari obat sakit perut, obat alergi, obat anti mabok, sampai obat kalo vertigo kambuh, termasuk obat tetes mata dan obat kalo susah buang air.

Rencana semula berangkat ke Jakarta tanggal 9 Mei, tapi setelah berunding dan berdebat cukup lama dengan bu Kunthi, maka diputuskan berangkat dari Bjm tanggal 10 Mei juga. Dengan Lion pukul 10.00 berangkatlah kami diantar Ade n bude Cucu ke bandara SyamNoor. Sampai di bandara S-Hatta kami langsung check-in (short stay) di Hotel Bandara Jkt. Sorenya, pukul 16.00 kami bergabung dengan grup yang total berjumlah 43 orang, termasuk Fabio (Bio), tour leadernya. Meeting point hanya beberapa langkah dari hotel tempat kami menginap. Pukul 17.00, setelah semua peserta menerima paspor, boarding pass, jadwal perjalanan, kartu imigrasi yang sudah diisi (kami hanya cukup tandatangan), masuklah rombongan kami melalui pemeriksaan imigrasi.

Pukul 19.40 Airbus A330-300 TK 67 Turkish Airlines meninggalkan bandara S-Hatta menuju Istanbul, Turki singgah di Changi airport menjemput penumpang. Satu jam lebih di udara, mendarat di Changi, keluar pesawat, namun 1 jam kemudian masuk pesawat lagi dan TK 67 mengudara menuju Kemal Attaturk Airport. Sebelas jam di udara, mendaratlah di bandara kota Istanbul, transit 3 jam dan transfer pesawat Turkish Airlines TK 1861 yang mengundara pukul 09.00 waktu setempat (4 jam lebih lambat dari WIB) hari Rabu, 11 Mei, kemudian lanjut perjalanan menuju Roma.

Dari Banjarmasin Sampai Paris: Suatu Catatan Perjalanan

Mulai seri ini, saya mencoba untuk sedikit bercerita pengalaman saya beberapa waktu yang lalu melakukan perjalanan ke beberapa negara Eropa. Bagian ini akan coba saya ceritakan bagaimana persiapan perjalanan tersebut. Selamat membaca.

Persiapan Tour Ke Luar Negeri

Schengen visa (Dok:google.com)Melakukan perjalanan ke luar negeri dalam rangka liburan, apalagi ke Eropa, tidak sesederhana seperti yang dibayangkan. Yang dipersiapkan bukan hanya masalah uang, tapi juga membereskan urusan kantor lebih dahulu, selain soal pilihan negara dan waktu. Perjalanan yang akan diceritakan ini dirancang sejak setahun lalu, jadi di awal tahun lalu pula kami sudah menyisihkan uang bulan demi bulan.

Tahun lalu kami sudah memutuskan untuk tahun ini jalan-jalan ke Eropa, maka mulailah tahun lalu sepulang dari NZ kami menabung, menyisihkan sebagian penghasilan, memperketat pengeluaran, bahkan menunda pembelian yang dianggap tidak sangat diperlukan.

Mengenai lokasi yang dituju dan lamanya perjalanan cukup bimbang kami memilihnya. Paket yang ditawarkan bervariasi untuk lamanya waktu dan negara/kota mana yang dikunjungi. Ada paket yang hanya 7 hari (termasuk 2 hari di perjalanan), tapi ada juga yang sampai 20 hari. Ada travel agen yang menawarkan untuk jalan-jalan ke hanya 2 negara, misal  Inggris & Scotland, atau Spain & Portugal, tapi mengunjungi 8 kota; ada juga yang menawarkan hingga 8 negara, tapi hanya di 8 kota.

Untuk lokasi tujuan, travel agen ada yang menawarkan ke Eropa Barat, Eropa Timur, Eropa Tengah, atau ke negara-negara Skandinavia. Untuk yang ke negara Skandinavia mahal, rata-rata ditawarkan sekitar USD 4.000 lebih.  Tour ke Eropa Barat, Timur, atau Tengah atau campuran negara-negara di Eropa, ditawarkan sekitar USD 2.000 sd USD 2.500 untuk 10 sd 15 hari, itu pun untuk keberangkatan di sekitar tengah tahun.

Mengenai waktu lain lagi. Apa mau berangkat di sekitar awal tahun, tengah tahun atau akhir tahun ? Di awal tahun nggak mungkin karena pak Abink & kelg balik ke Indo, di tengah tahun biasanya kerjaan di kantor numpuk dan saat musim liburan sekitar Juni/Juli biasanya paket tour naik antara 25 % sd 35 %, di akhir tahun …. hiiii dingiiiiin. Waktu di Christchurch yang sekitar 8 sd 12 derajat aja (kulit) nggak tahan, langsung  keluar bintul-bintul (beliman), gatal lagi.

Setelah timbang sana sini, e-mail sana sini, baca iklan sana sini, akhirnya pada sekitar awal bulan Maret lalu kami putuskan berangkat sekitar bulan Mei, hitung-hitung sebagai hadiah Ultah (habis nggak ada yang ngadoi). Negara tujuan adalah Eropa Barat karena Kunthi tahun lalu sudah ke Eropa Timur. Lalu kami pilih tour operatornya: Bayu Buana yang sudah dikenal luas dan perusahaan publik. Paket yang diambil adalah West Europe Saver 13D, mengunjungi Italia – Swiss – Jerman – Belanda – Belgia – Perancis,  dengan pesawat Turkish Airlines keberangkatan tanggal 10 Mei 2011.

Mulailah kami memenuhi segala persyaratan, mulai dari mempersiapkan permohonan cuti panjang, memberesi surat-surat dan salinan akta serta pekerjaan lain yang tertunda, menyiapkan surat sponsor, surat  referensi bank, sampai menghubungi para relasi dan menunjuk Notaris Pengganti. Mulai awal Maret pula kami memohon visa untuk negara-negara Schengen via kedutaan Prancis.

Namun satu hal yang masih jadi ganjelan, Adheku ujiannya apa berhasil atau nggak ? Kalo lulus, bagaimana dengan persiapan mencari perguruan tingginya ?

(Bersambung ke part 2)

Sabtu, Dua Puluh Delapan Tahun Yang Lalu

Sabil 27 tahun yang laluDi bawah viaduk Gubeng, di rumah bersalin Dinas Kesehatan Tentara (DKT), isteriku mengerang kesakitan. Waktu persalinan tampaknya sudah dekat, namun hingga matahari tampak di ubun-ubun  belum juga ada tanda persalinan. Padahal Sabtu subuh itu ketuban sudah pecah, hanya isteriku belum menampakkan gejala sakit atau mulas.

Dr Prayit dan Dr Heru, dua orang SpOG handal di kota Surabaya yang menangani isteriku, ketika ditanya tampak santai. Belum, katanya singkat. Berdoa saja, katanya lagi sambil senyum.

Namun siangnya pada pukul 16.15 waktu Surabaya, terdengarlah suara tangisan bayi. Kencaaaang sekali. Perasaanku tidak karuan, tidak bisa kulukiskan saat itu apa yang berkecamuk dalam benak. Kaki kadang melangkah keluar ruang tamu, namun sesampai di luar kaki melangkah lagi masuk mendekati tembok ruang persalinan.

Ketika suster Titi memanggilku, aku langsung terpana melihat seorang bayi lelaki, dari balik kaca,  yang gemuk, montok, masih merah, lagi nangis. Yang kuingat ketika itu terlintas dalam pikiranku adalah: sekarang aku sudah menjadi seorang ayah.

Setelah bertemu dan  mencium isteriku, mama Hannie,   bergegas aku ke mushalla stasiun Gubeng, melakukan shalat ashar, sujud syukur, sembari berdoa, ya Allah – terima kasih  kau anugerahi kami seorang bayi laki-laki penerus keturunan kami, engkau dengan kekuasaanMu, jadikanlah ia anak yang saleh, yang berguna bagi agama, keluarga, dan negaranya.

Hari itu, Sabtu, 19 Maret 1983, setelah tiga tahun kami berjuang untuk mendapatkannya, lahirlah dari rahim mama Hannie, anak pertama kami, yang kemudian kami beri namaAnanda Sabil Hussein.

Happy b’day nak, bapak berharap semoga selalu sehat, dipanjangkan usia, selalu menjadi kebanggan keluarga, menjadi anak yang saleh, yang berguna bagi agama, keluarga, dan negara.

Bjm, 19 Maret 2011