Sabil 27 tahun yang laluDi bawah viaduk Gubeng, di rumah bersalin Dinas Kesehatan Tentara (DKT), isteriku mengerang kesakitan. Waktu persalinan tampaknya sudah dekat, namun hingga matahari tampak di ubun-ubun  belum juga ada tanda persalinan. Padahal Sabtu subuh itu ketuban sudah pecah, hanya isteriku belum menampakkan gejala sakit atau mulas.

Dr Prayit dan Dr Heru, dua orang SpOG handal di kota Surabaya yang menangani isteriku, ketika ditanya tampak santai. Belum, katanya singkat. Berdoa saja, katanya lagi sambil senyum.

Namun siangnya pada pukul 16.15 waktu Surabaya, terdengarlah suara tangisan bayi. Kencaaaang sekali. Perasaanku tidak karuan, tidak bisa kulukiskan saat itu apa yang berkecamuk dalam benak. Kaki kadang melangkah keluar ruang tamu, namun sesampai di luar kaki melangkah lagi masuk mendekati tembok ruang persalinan.

Ketika suster Titi memanggilku, aku langsung terpana melihat seorang bayi lelaki, dari balik kaca,  yang gemuk, montok, masih merah, lagi nangis. Yang kuingat ketika itu terlintas dalam pikiranku adalah: sekarang aku sudah menjadi seorang ayah.

Setelah bertemu dan  mencium isteriku, mama Hannie,   bergegas aku ke mushalla stasiun Gubeng, melakukan shalat ashar, sujud syukur, sembari berdoa, ya Allah – terima kasih  kau anugerahi kami seorang bayi laki-laki penerus keturunan kami, engkau dengan kekuasaanMu, jadikanlah ia anak yang saleh, yang berguna bagi agama, keluarga, dan negaranya.

Hari itu, Sabtu, 19 Maret 1983, setelah tiga tahun kami berjuang untuk mendapatkannya, lahirlah dari rahim mama Hannie, anak pertama kami, yang kemudian kami beri namaAnanda Sabil Hussein.

Happy b’day nak, bapak berharap semoga selalu sehat, dipanjangkan usia, selalu menjadi kebanggan keluarga, menjadi anak yang saleh, yang berguna bagi agama, keluarga, dan negara.

Bjm, 19 Maret 2011