Rest Area - A1 Italy

Hari itu Kamis, 12 Mei 2011. Hotel yang kami tempati, Palace Inn (ex Holiday Inn), berada di via Milano, di pinggiran kota Roma.  Ketika waktu sarapan, banyak peserta tour yang mengeluarkan bekalnya, IndoMie dalam cup.  Bagi mereka yang sudah biasa makan nasi tentu saja tidak berselera, karena makan pagi yang disediakan hotel berbintang tiga ini hanya roti bundar (agak keras) dalam kemasan, biskuit, sereal, aneka keju, selai, dan salad, serta ditemani orange juice dan teh aneka rasa serta coffee maker yang dapat membuat cappuccino, espesso, macchiato dan kopi lainnya. Mungkin kami berbeda pandang dengan kawan seperjalanan. Kami (aku & Kunthi) berprinsip makan apa yang dihidangkan, asal halal. Kami tidak hanya ingin tahu alam, budaya, dan karakter orang di suatu tempat, tapi juga ingin merasakan makanannya. Rasanya tidak lengkap bila sosok berada di Italy tapi sarapannya Pecel Glintung atau Soto Lombok, nggak matching.

Kunthi "model" Fini Grill😉

Pukul 9 pagi bus kami, buatan MAN Jerman, long distance bus yang sangat baru, meninggalkan hotel menuju kota Pisa berjarak 350 km jauhnya. Objek wisata yang dilihat tentu saja menara miring Pisa. Sopir bus bernama Luca, masih muda, gagah, ngganteng bagai bintang film barat umumnya, menjalankan kendaraan dengan elegan, mantap, membuat kami merasa ayem. Kecepatan rata-rata sekitar 100 km/h, jadi diperkirakan sekitar 3,5 jam lebih kami akan sampai di kota wisata Pisa.

Menurut tour leader kami, di Eropa ada aturan ketat untuk berkendara, setidak-tidaknya untuk pengendara bus wisata. Mereka tidak diperkenankan mengendarai bus lebih dari 2 hingga 2,5 jam. Jadi, bila sudah 2 jam di perjalanan, bus kami berhenti di tempat peristirahatan sekitar 20 hingga 30 menit. Biasanya 5 menit sebelum sampai rest area, Fabio si tour leader kami mengumumkan “toilet stop”.

Rest area yang kami kunjungi di sepanjang perjalanan di Italy sangat bersih. Selain ada SPBU juga ada beberapa tempat makan, cafe dan mini market yang lengkap, termasuk toilet. Fini Grill, makanan sehat cepat saji yang terkenal di Italy, sering menempati salah satu outlet di rest area jalan tol. Masuk toilet yang tersedia, bila di ada luar mini market, gratis. Tapi bila ada di dalam mini market, harus bayar lumayan mahal, sekitar Rp 12.500. Ternyata nanti ada lagi toilet yang lebih mahal, mungkin termahal di dunia, yaitu di Venice yang sekali masuk toilet sekitar Rp 25.000. “Beruntung” kami pernah merasakan toilet termahal di dunia … ahahaha.

Masuk kota Pisa yang berpenduduk sekitar 90 ribu jiwa ternyata tidak langsung melihat menara Pisa. Bus berhenti di “ladang bus wisata” yang ketika itu ada mungkin hampir seratus bus, tidak boleh langsung ke lokasi menara miring itu. Dari sana kita diangkut bus dalam kota. Sekitar sepuluh menit sampailah ke tujuan. Ternyata menara Pisa itu ada dalam satu komplek seluas kira-kira tiga kali lapangan bola yang menampung empat bangunan bersejarah.

Kunthi "menahan" Pisa

Menara Pisa, atau orang sana menyebut Torre Pendente (Leaning Tower) adalah sebuah bangunan setinggi 56 meter tempat letaknya lonceng (menara lonceng) dari katedral kota Pisa yang berada di sampingnya. Menara ini dibangun abad 12 yang diselesaikan hampir 177 tahun. Karena salah konstruksi (pondasi hanya tiga meter), ketika dibangun lantai kedua dari delapan lantai, pondasi bangunan sudah ambles. Maka bangunan dihentikan; seratus tahun kemudian baru pembangunan dilanjutkan tanpa membetulkan kemiringan. Maka jadilah si menara lonceng tadi bangunan terkenal di dunia.

Bangunan lain dalam komplek itu adalah Katedral Pisa (Duomo di Pisa), dan Baptistery, serta Campo Santo. Katedral atau Duomo atau Dome dibangun di abad 11. Kalo Baptisan (kalo tidak salah “baptis” = ritual inisasi kristen, yaitu suatu upacara keagamaan yang melambangkan pembersihan dosa) dibangun abad 12. Bangunan baptisan ini oleh para arsitek disebut bangunan bergaya transisi antara gaya Romawi ke gaya Gotik. Sama seperti katedral, baptisan ini dilapisi full marmer. Bangunan yang satu lagi, Campo Santo (Holy Field), adalah kuburan. Bangunan ini juga bergaya gotik, dipercaya dibangun dengan membawa sekapal tanah suci dari Golgota setelah usai Perang Salib Keempat (1202 – 1204).

Puas berfoto dan melihat-lihat bangunan terkenal itu, kami makan es krim yang lezat sambil menyusuri deretan kios yang berjualan cendera mata. Sekitar pukul 20:00 waktu setempat (masih terang bagai pukul 17:00 di tempat kita) kami beranjak menuju terminal bus untuk melanjutkan perjalanan ke kota Prato, satu jam perjalanan dari Pisa untuk menginap di Hotel Delta.