Engelberg, Swiss

 Kebanyakan orang mengenal Swiss sebagai negara pembuat arloji bermerek seperti Rolex, Patek Philippe, Panerai, Omega, IWC, Tag Heuer, hingga Oris, Longines atau Tissot, atau mengenalnya karena pisau lipat Victorinox. Kalangan perbankan atau orang-orang berduit menyebut Swiss sebagai “safe heaven”, tempat potensial (bagaikan surga) untuk menyimpan uang. Nah di kalangan perhotelan, Swiss terutama Lucerne, adalah idaman para siswa dan karyawan hotel untuk menempuh pendidikan manajemen hospitality dan kulinari di sana.

Sejak dulu kalangan perhotelan di negara kita menganggap Lucerne sebagai kiblatnya pendidikan manajemen keramahtamahan hotel. Banyak orang meyakini bahwa ke depan Swiss, salah satunya kota Lucerne, diramalkan akan terus mempertahankan posisinya sebagai penyedia  manajemen hospitality dan kepariwisataan terbesar tingkat dunia. Hari itu, Minggu 15 May, aku merasakan keramahtamahan yang hangat Grand Hotel Europe, tempat kami menginap di sana.  Sekitar pukul 05:30 waktu setempat, saat udara dingin dengan temperatur 9 oC, di kamar aku sudah

Dok. Grand Hotel Europe (www.europe-luzern.ch)

gelisah karena biasanya di pagi hari sudah baca koran ditemani secangkir kopi.

Ketika itu lobby hotel masih sepi, apalagi restaurannya yang seharusnya buka pukul 06.30. Iseng aku masuk ke restoran dimana ada seorang waiter yang lagi sibuk menyusun peralatan makan. “Ada yang bisa dibantu ?” , katanya. Aku bilang aku mau beli secangkir kopi susu. Dia bilang restoran masih tutup dan jadwal grup kami nanti sarapannya pukul 07.00. Tapi tunggu sebentar, katanya. Tidak lama, setelah dia masuk ke ruang lain, waiter tadi keluar membawa secangkir kopi susu dengan sepotong chocolate chip. Segar mataku melihatnya, dan kutanya berapa aku harus bayar. Sambil tersenyum dia bilang:  “Anda kan datang tadi malam, itu (kopi susu) gratis, anggap saja minuman selamat datang di Lucerne dan di hotel kami”.

Lucerne, atau orang setempat menyebutnya Luzern, adalah ibukota kanton (wilayah) Luzern, terletak di Swiss bagian tengah, berpenduduk sekitar 75 ribu jiwa. Walau penduduknya sedikit, tapi kota yang berada di tepi danau Luzern ini mampu menampung kunjungan 5 juta wisatawan setiap tahunnya, luar biasa. Aku menyaksikan sendiri bagaimana hari itu kota Lucerne menampung kedatangan 1.300 sekaligus wisatawan tur insentif Amway India. Bagaimana mereka mengatur dan menyediakan akomodasi, konsumsi, dan transportasinya, bandingkan dengan kota

Restaurant  Dok. Grand Hotel Europe (www.europe-luzern.ch)

Banjarmasin, yang berpenduduk 750 ribu  jiwa ketika menerima 3.000 tamu peserta dan penggembira dalam Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) Nasional awal Juni lalu.

Tidak jauh dari kota Lucerne ada beberapa puncak gunung terkenal  yang merupakan bagian dari pegunungan Alpen, Jungfraujoch (3454 m), Pilatus (2128 m), Rigi (1797 m), dan Titlis (3238 m).  Hari itu kami diajak mengunjungi puncak Mount Titlis, salah satu wisata pegunungan di Lucerne yang terkenal dengan salju abadinya. Bagi kami yang sehari-harinya tinggal di Banjarmasin, kota   dimana ketinggian tanah berada pada 0,16 meter di bawah permukaan laut dan hampir seluruh wilayah digenangi air pada saat pasang, berada di ketinggian tentu merasakan sensasi yang khas dan tersendiri.

                                                                                      Di Kaki Gunung Titlis, Engelberg – Lucerne

Kurang dari satu jam kami sampai di Engelberg, desa dengan ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut  berpenduduk sekitar 5 ribu jiwa dan tempat tetirah terkenal di Swiss Tengah, yang terletak di kaki gunung Titlis. Untuk mencapai puncak Titlis kita harus menggunakan Rotair Titlis, wahana khusus berupa kereta gantung. Stasiun pertama yang merupakan pintu masuk di lembah Engelberg itu kami naik kereta gantung yang dapat memuat enam orang.

Ketika meninggalkan stasiun Engelberg, kereta gantung naik tajam mendaki gunung, badan terasa melambung ke langit biru bagai dibawa angin kencang, kami yang berada di dalam kereta kabel berpegang erat pada bangku yang ada. Namun ketakutan di ketinggian sirna ketika sampai pada dataran yang agak rata disuguhi pemandangan alam yang  luar biasa. Hamparan rumput hijau di bawah kereta gantung, beberapa bangunan menyendiri dan sekawanan sapi yang sedang merumput di lereng gunung yang pada lehernya digantung lonceng serentak berbunyi karena sapi-sapi mengangguk dan menggeleng mencari rumput, menimbulkan suara dengan irama yang khas. Luar biasa, hingga kini terngiang di telinga suara lonceng anggukan sapi-sapi itu.

                                                                                    Gerschnialp, Engelberg, Swiss

Tidak lebih dari 10 menit, kami sampai di stasiun Gerschnialp, dengan ketinggian 1262 meter di atas permukaan laut.  Di sini kami tidak turun dari kereta gantung tapi dengan wahana yang ada kami langsung menuju stasiun perhentian kedua. Di stasiun ini, Trubsee namanya yang berketinggian 1800 meter, kami berganti wahana. Kereta kabel kedua ini berbentuk seperti bus, mungkin lebih tepat disebut gondola bus gunung yang dapat memuat 80 orang sekaligus, namun tidak ada tempat duduk, jadi semuanya berdiri.

Dalam perjalanan, di bawah kereta masih terlihat hamparan rumput hijau, namun nun jauh di atas sana sudah terlihat puncak gunung Titlis yang tertutup salju. Lebih kurang 10 menit sampailah di stasiun Stand di ketinggian 2428 meter. Di perhentian ini pengunjung berganti wahana yang disebut gondola Rotair, yang dapat memuat  80 orang. Dalam wahana ini penumpang semua berdiri, dan hebatnya lantai Rotair berputar 360 derajat sehingga penumpangnya dapat melihat panorama sekelilingnya yang spektakuler. Saat berada di stasiun Stand salju sudah terlihat di mana-mana, dan ketika berada di ruang terbuka menunggu antrian masuk ke Rotair dingin sudah terasa tak tertahankan.

                                                                                     Rotair Titlis (Dok titlis.ch)

Lima menit berada di gondola (yang lantainya) berputar yang pertama di dunia sampailah kami di stasiun gunung Titlis. Di gedung stasiun puncak ini ada beberapa lantai yang bisa ditemukan restoran, cafe, depot es krim, foto studio (pakaian tradisional Swiss atau pakaian ski), toko arloji, dan teras di atapnya yang bisa merasakan bermain salju.

Hari itu di stasiun Engelberg hingga puncak Titlis sangat padat, semua tempat mulai dari toilet, naik kereta kabel hingga segala aktivitas di sana antri, maklum rombongan kami bersamaan dengan grup tour insentif dari Amway India yang berjumlah ratusan orang. Lagi-lagi aku menemukan keramahtamahan Swiss, kali ini di cafe Titlis. Ketika aku membeli cappuccino, pelayan yang ketika itu hanya satu-satunya kewalahan melayani sekian banyak tamunya. Berkali-kali dia mohon maaf dan minta aku menunggu sejenak. Berkali-kali pula aku mengatakan no problem karena memaklumi keadaannya. Akhirnya dengan senyum diantarkannya kopi pesananku. Biasanya cappuccino dilengkapi dengan sepotong chocolate chip, tapi kali ini ada dua potong.

                                                                                       Kunthi Bermain Salju di Gunung Titlis

Puas bermain salju dan menikmati pemandangan spektakuler yang tak terlupakan di puncak Titlis, setelah lebih kurang 3 jam di sana kami kembali turun ke Engelberg dan langsung naik bus untuk kembali ke kota Lucerne.

Dalam bus, iseng aku melempar joke kepada rekan seperjalanan di bus: “Adakah yang tahu, wanita dari negara mana yang paling pemberani ?” Ada yang menjawab wanita dari Indonesia, alasannya ditinggal suami kerja tahunan sebagai TKI tidak takut. Ada yang menjawab wanita dari Swiss, alasannya tidak takut main ski sendiri berdingin-dingin di puncak gunung. Banyak negara yang disebut dengan berbagai alasan, tetap aku bilang semua salah. Aku bilang: “Wanita paling pemberani adalah dari India”. Alasannya ? Ketika tadi aku ada di toilet (tentu saja) laki-laki, tiba-tiba nyelonong beberapa ibu-ibu dari India dan masuk begitu saja ke toilet laki-laki menggunakan klosetnya. Para lelaki kebanyakan buang air kecil di urinoir, jadi kloset jarang digunakan. Rupanya mereka sudah tidak tahan antri berlama-lama di toilet wanita.

Ketika kembali ke kota kami diajak ke toko arloji & perhiasan Bucherer, toko milik keluarga yang dibuka pertama kali oleh Carl-Friedrich Bucherer pada tahun 1888. Hari itu tidak banyak toko yang buka, maklum hari minggu. Lagi-lagi toko arloji Bucherer dan toko lainnya di sekitar sana dipenuhi oleh turis asal Asia, terutama India dan Cina. Aku pikir dalam 10  tahun ke depan mungkin keadaan sudah berbalik. Dahulu di negara kita dan negara-negara Asia lainnya, umumnya yang disebut  turis itu adalah pelancong dari Eropa dan Amerika, kini warga Asia lah yang menjadi pelancong di sana.

                                                                                                  Bucherer – Lucerne

Lepas dari toko Bucherer yang terkenal itu, kami menyempatkan mengambil foto dengan objek danau Luzern dan The Chapel Bridge. Jembatan yang terkenal itu dibangun tahun 1333 sebagai bagian dari pertahanan kota, dan didekatnya ada bangunan menara air  bersegi delapan yang dahulu berfungsi sebagai ruang tanahan dan penyiksaan. Kedua bangunan itu sekarang menjadi landmark  kota Lucerne.

                                                                                               Chapel Bridge – Lucerne

Selanjutnya kami diajak menuju monumen singa. Monumen singa sekarat terkena tombak itu setinggi enam meter dan panjang sepuluh meter, dipahat pada tahun 1819 di atas bukit batu yang ditambang  selama berabad-abad untuk membangun kota.

                                                                                             Monumen Singa – Lucerne

Monumennya sih biasa-biasa saja, tapi sejarah latar belakangnya yang luar biasa karena menggambarkan keperkasaan dan kegigihan tentara (bayaran)  Swiss yang kehilangan nyawa ketika para revolusioner menyerang istana Tuileris, tempat dimana  Louis XVI Raja Prancis bermukim, ketika terjadi Revolusi Prancis. Garda Swiss yang menjadi pengawal raja dibantai demi menyelamatkan keluarga kerajaan agar mereka bisa kabur. Maka, dipahatlah prasasti berbahasa latin di atas monumen itu: Helvetiorum Fidei Ac Virtuti (“Untuk loyalitas dan keberanian dari Swiss”). Nama 760 prajurit yang tewas dan 350 yang hidup juga dipahat di sana.  Dari situlah mungkin sekarang kita kenal Swiss Army atau Garda Swiss (Swiss Guard) yang juga mengawal Vatikan.

Sebenarnya masih banyak objek wisata di Lucerne, namun karena sudah malam, selepas meninjau monumen singa kami kembali ke hotel, dan langsung tidur dengan nyenyak. Esok paginya, ketika sarapan kami tidak hanya disuguhi makan pagi ala Eropa tapi juga ada menu nasi, kata orang hal yang langka ditemukan di hotel kota-kota di Eropa. Lagi-lagi kami disuguhi keramahtamahan Lucerne.  Sungguh suatu kenangan yang sulit untuk dilupakan.